Teks Editor Pilihan

09 September 2017

Tulisan asli saya bisa diakses di sini

Untuk seorang web developer, teks editor adalah peralatan utama yang digunakan setiap hari. Pilihan teks editor yang tepat, dapat mempengaruhi produktivitas kita sehari-hari.

Ada banyak teks editor tersedia, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang saya ceritakan di sini adalah pengalaman saya dalam mencari teks editor yang paling sesuai dengan pekerjaan saya sehari-hari.

1. Sublime Text

Saya mulai menggunakan Sublime Text sekitar tahun 2011. Saat itu editor ini sangat populer. Saya memutuskan untuk membeli lisensi Sublime Text 2 di tahun 2015.

Sublime Text
Menggunakan Sublime Text untuk mengerjakan salah satu proyek berbasis React.js

Banyak fitur menarik yang ditawarkan oleh Sublime Text. Selain aplikasinya terasa ringan digunakan, multiplatform, banyak plugin dan theme yang tersedia dengan bebas. Salah satu fitur yang sangat membantu saya saat itu adalah multiple cursor.

Sayang sekali, Sublime Text seperti ditinggalkan oleh pembuatnya. Jarang ada update. Rencana rilis Sublime Text 3 pun seperti tidak ada kemajuan berarti. Saya mulai mencari editor pengganti.

2. Atom

Saya mendengar sebuah editor baru bernama Atom, salah satu produk milik Github. Dari tampilan, website, dan video-nya, Atom ini nampak menjanjikan. Yang menarik, Atom ini dibuat dengan teknologi web, seperti HTML, CSS, dan Javascript berbasis Electron. Tapi setelah mencoba mengerjakan beberapa proyek menggunakan Atom, perlahan-lahan kinerja Atom memburuk, dan selalu berakhir dengan crash. Kesimpulan saya saat itu, mungkin Electron tidak cocok untuk pembuatan teks editor.

3. Visual Studio Code

Kemudian lahirlah Visual Studio Code. Editor produk Microsoft ini juga berbasis Electron. Inilah yang pada awalnya membuat saya malas mencoba Visual Studio Code (VSCode). Tapi karena editor ini sangat populer, saya pun berinisiatif mencobanya. Dan benar, VSCode ini berbeda dengan Atom. Terasa lebih ringan, ekosistem plugin yang lebih matang, integrasi Git yang lebih baik, terminal terintegrasi, dan karena saat itu saya mulai mengerjakan beberapa project berbasis Node.js, fitur intellisense-nya dan debugger-nya sangat membantu.

Visual Studio Code
Project React.js yang sama, dibuka menggunakan Visual Studio Code

4. Vim / NeoVim

Tetapi setelah pengerjaan beberapa project, VSCode mulai menghabiskan memory laptop. Saya mulai berpikir untuk mencari editor alternatif yang minimalis, ringan, tetapi bisa diandalkan. Setelah membaca beberapa artikel dan menonton beberapa video tutorial, saya memutuskan untuk mencoba Vim, kemudian NeoVim, salah satu varian Vim dengan fitur lebih baru dan ter-update.

Vim yang rilis di tahun 1991 ini sangat berbeda dengan editor-editor sebelumnya. Selain diakses via terminal emulator, Vim juga sebuah modal editor yang memiliki beberapa mode dalam pengoperasiannya. Selain itu, editor Vim ini sangat-sangat keyboard sentris, dengan berbagai macam perintah yang bikin pusing para pemula.

Setelah menghabiskan waktu untuk menginstall beberapa plugin dan mengutak-atik konfigurasi-nya, akhirnya saya memutuskan untuk migrasi total ke NeoVim, dan menggunakan iTerm2 sebagai aplikasi utama untuk menjalankan NeoVim.

NeoVim + Tmux
Membuka project React.js dengan NeoVim, menggunakan iTerm2

Dengan konfigurasi ini, NeoVim terintegrasi dengan Git, memiliki fitur auto-completion, emmet, file explorer, terminal terintegrasi, theme yang dapat dikustomisasi, dan fitur-fitur lainnya.

5. Emacs / Doom Emacs

Saat ini saya menggunakan Emacs sebagai editor utama. Emacs sendiri pertama dirilis pada tahun 1985. Distribusi Emacs yang saya gunakan adalah Doom Emacs. Pilihan ini bukan karena Vim sudah tidak bisa diandalkan untuk pekerjaan sehari-hari, tapi karena lebih ke rasa penasaran saya akan Emacs. Dengan Doom Emacs, saya tetap bisa menggunakan editor dengan perintah a la Vim (Evil Mode), mendapatkan semua fitur Vim, tetapi juga mendapatkan hal lain yang tidak dimiliki Vim, seperti kalendar, menampilkan gambar, integrasi Git yang lebih baik dengan menggunakan Magit, Node.js REPL, Web Browser, Email Client, Twitter client, Slack client, bahkan Tetris.

Doom Emacs
Membukan project Gatsby, Tetris, dan Terminal Emulator dengan Emacs

Selanjutnya, saya belum tahu apa teks editor yang akan saya gunakan setelah Emacs. Teks editor hanya perangkat yang kita gunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari, dan setiap orang pasti memiliki preferensinya masing-masing. Jika nanti ada teks editor yang menarik untuk saya coba, mungkin saya akan menggunakannya dan menulisnya di sini.

tag: , , , , ,


Aldi Daswanto
Ditulis oleh Aldi Daswanto, full stack developer di Good Boy Studios, Inc.
Follow saya di Instagram, atau kontak saya via email di aldi[at]daswanto.com
© 2021, Dibuat menggunakan Gatsby